Sabtu, 19 Januari 2013

Resensi Pertamaku

RESENSI NOVEL
"NEGERI 5 MENARA"

Judul                :           Negeri 5 Menara
Penulis             :           Ahmad Fuadi
Penerbit           :           Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit      :           2009
Ukuran             :          
Tebal               :           242 Halaman
Cover               :           Bergambar 6 remaja laki-laki dari arah depan yang sedang berjalan sambil bergurau satu sama lain. Judul terlampir.

A.    TEMA
            Novel “NEGERI 5 MENARA”  ini bertemakan tentang kebimbangan, perjuangan dan persahabatan. Novel ini bercerita tentang 6 orang sahabat yang berjuang sekuat tenaga dan pikiran dalam meraih impian mereka masing-masing.

B.    SINOPSIS
Hidup adalah pilihan.
Penulis best seller  Ahmad Fuadi berbagi sedikit perjuangan masa mudanya melalui novel berjudul “NEGERI 5 MENARA”. Novel ini bercerita tentang tokoh utama Fuadi sebagai Alif Fikri, pemuda asal Desa Bayur, Maninjau, Sumatera Barat yang bercita-cita ingin menjadikan dirinya seperti B.J.Habibie, sosok yang sangat diimpikan. Alif berniat untuk masuk di SMA Bukittinggi Sumatera Barat dengan berbekal nilai ujian yang lumayan bagus bersama seorang sahabatnya, Randai. Keduanya ingin melanjutkan pendidikan di ITB kelak. Namun, mimpinya seakan sirna begitu cepat ketika sang Amak tidak mengijinkan. Beliau meminta anaknya untuk melanjutkan sekolah di Pondok Modern Gontor dengan alasan Amak ingin Alif menjadi seorang ustad nantinya. Alifpun bimbang. Dengan berbekal setengah hati dan rasa berbakti kepada orangtua, Alif berangkat ke Pondok Madani (PM), Ponorogo, Jawa Timur ditemani sang ayah. Selama diperjalanan Alif menghapus keraguan yang singgah dan menguatkan keyakinan bahwa memang itulah jalan hidup terbaik untuknnya.
Kesan pertama Alif adalah aturan yang ketat dan sangan disiplin. Hukuman berlaku bagi siapa saja yang melanggar aturan sekecil apapun di PM. Disisi lain, Alif terjamu dengan pepatah Kyai Rais “Man Jadda Wajada” yang berhasil mengobarkan semangat semua murid. Di pondok itu Alif dipertemukan dengan para “Sahibul Menara” yang berarti “orang yang punya menara” sebutan bagi Alif dan 5 temannya yaitu Raja, Said, Dulmajid, Atang dan Baso karena seringnya mereka menghabiskan waktu senggangnya di menara sambil menunggu adzan maghrib. Mereka belajar bersama-sama dan senang mendiskusikan tentang impian-impian mereka masing-masing di bawah menara tertinggi di PM.

Suatu saat Alif menerima surat dari Randai yang bercerita tentang indahnya masa SMA. Hatinya merasa iri. Keyakinannya mulai terusik karena rencana masuk SMA-nya juga rencana Alif dulu. Alif merasa seperti ada batu yang menekan dadanya ketika melihat kembali sepucuk surat dari Randai. Alif  kegelisahan mengetahui teman baiknya – Randai – sudah masuk SMA terbaik yang pernah mereka idamkan bersama, sudah melewati masa SMA dengan penuh tawa, dan dengan bahagia berhasil merebut impian mereka tertinggi: masuk universitas di ITB. Pertanyaan “jadi apa aku nanti?” terus terngiang dalam kepalanya mengingat ijazah PM tidak diakui walaupun sangat diakui di luar negeri. 
Seiring berjalannya waktu, Alif mulai menikmati kehidupannya, mulai berteman baik dengan segala aturan. Disana Alif belajar berpidato dengan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab yang merupakan bahasa resmi PM. Masa-masa ujian pertama Alif lewati dengan persiapan yang sangat matang. Alif bersama Sahibul Menara rela begadang untuk belajar demi nilai bagus. Sudah menjadi tradisi hampir semua murid PM bangun tengah malam untuk mengulangi materi yang sudah diajarkan para ustad yang ikhlas mengajar tanpa gaji sepeserpun.
Di tengah perjalanan, Baso tiba-tiba memutuskan untuk keluar dari PM karena ingin merawat neneknya yang sedang sudah tua dan sakit-sakitan. Kepergian Baso membangkitkan penyakit lama Alif. Surat Randai menyuburkan. Alif baru saja menerima surat dari Bandung, dengan amplop bergambar gajah duduk, lambang almamater kebanggaannya, ITB. Randai bercerita bagaimana bangga dan senangnya merantau di Bandung. Hati Alif memberontak. Alif tahu pasti bahwa PM tidak memberikan ijazah untuk masuk sekolah umum. Ijazah PM malah diakui di Mesir, Arab Saudi, Pakistan, dan bebeerapa negara lain. Alif mengirim surat kepada Amaknya, meminta untuk berhenti dari PM. Amak langsung membalas bahwa Ayahnya akan segera datang ke PM. Di PM Alif dibujuk Ayahnya untuk terus bertahan sampai berakhirnya ujian kelulusan. Sang Ayah sudah mendaftarkannya untuk ikut ujian persamaan delapan bulan lagi. Alifpun mengangguk tanpa kesadaran penuh.
Mata Alif nanar mengikuti jari yang mencari-cari nama nya di papan pengumuman kelulusan. Alif menemukannya dengan pernyataan LULUS. Segeralah ia sujud syukur dan berpelukan dengan para Sahibul Menara. Kelas enam dikumpulkan di depan rumah Kyai Rais untuk menerima transkip nilai dan diberi nasehat langsung. “... Ingatlah nasihat Imam Syafi’i : Orang yang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan neegerimu dan merantaulah ke negeri orang. Selamat jalan anak-anakku,” ucap Kyai Rais dalam nasihat terakhirnya. Suasana begitu hening dan syahdu.
Malamnya diadakan acara Khutbah perpisahan. Semua kelas enam yang berjumlah ratusan diminta berdiri memanjang di aula. Saling meletakkan tangan di bahu teman, di kiri kanan. Suasana hening pecah oleh isakan kecil sana-sini ketika mendengar pesan Kyai Rais. Lalu Kyai Rais dan para guru menjabat tangan mereka satu persatu. Tiba giliran Alif, Kyai Rais memberikan pelukan erat. “Anakku, selamat berjuang. Hidup sekali, hiduplah yang berarti,” bisiknya. Alif menggigit bibir, tersentuh oleh pelukan guru yang sangat ia hormati ini. Esoknya bus carteran jurusan Bukuttinggi menderum meninggalkan PM.
11 tahun kemudian. Alif sampai di Trafalgar Square, di London. Yang apling mencolok adalah sebuah menara granit yang pondasinya dijaga empat ekor singa. Di pucuk menara berdiri patung pahlawan perang Inggris Admiral Horatio Nelson. Menara itulah tujuan Alif, tempat mereka berjanji bertemu. Tak lama kemudian, Raja datang, selang beberapa menit Atangpun juga datang.  “Pertemuan bersejarah, di jantung kota London! Alhamdulillah,” katanya. Mereka saling bercerita tiada henting tentang pengalaman masing-masing. Atang bercerita bahwa Said dan Dulmajid bekerja sama mendirikan sebuah pondok di Surabaya. Atang juga mendapat kabar tentang Baso yang sukses menghafal Al-Quran kini kuliah di Mekkah dengan beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi. Sedangkan Atang sendiri menuntut ilmu di Kairo dan sekarang menjadi mahasiswa program doktoral untuk ilmu hadist di Universitas Al-Azhar. Sementara Raja sudah satu tahun tinggal di London, setelah menyelesaikan kuliah hukum islam dengan gelar License.Alif tak putus-putus membatin, “Terima kasih Allah, Sang Pengabul Harapan dan Sang Pendengar Doa.”
Dulu mereka melukis langit dan membebaskan imajinasi di bawah menara PM. Alif melihat awan seperti benua Eropa, Raja melihat awan berberntuk Eropa, Atang melihat awan berbentuk Afrika, Baso melihat awan berbentuk Asia, sedangkan Said dan Dulmajid sangat nasionalis, awan itu berbentuk peta negara Indonesia. Dulu mereka takut bermimpi. Tapi lihatlah sekarang, dengan segala usaha dan doa , Tuhan mengirim benua impian ke pelukan masing-masing.Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.....
C.    COVER
Buku yang berjudul “NEGERI 5 MENARA”  ini ditulis oleh Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan lebar buku ... , panjang buku ... , kertas isi... , kertas kulit..., dan tebal...halaman. Buku ini merupakan cetakan ke... yaitu pada tahun 2009 dengan gambar cover bergambar 6 remaja laki-laki dari arah depan yang sedang berjalan sambil bergurau satu sama lain. Halaman judul terlampir.

D.    JENIS BUKU
Novel “NEGERI 5 MENARA”  ini merupakaan jenis novel fiksi yang menceritakan tentang seseorang dan 5 sahabatnya yang berjuang dalam meraih impian tinggi mereka, lalu pada suatu saat mereka berhasil memeluk impian tersebut.

E.    UNSUR INTRINSIK
1.          Tema
Novel karya Ahmad Fuadi ini bertemakan kebimbanganseseorang dalam menentukan kelanjutan studinya, perjuangan dalam meraih impian, dan persahabatan 6 remaja laki-laki.
2.      Latar / setting
Sumatra Barat, Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Bandung, Washington DC.
3.      Tokoh dan Penokohan
Ø    Alif Fikri ( Pemeran Utama – Protagonis )
Seorang anak Maninjau, Sumatra Barat yang bercita-cita ingin menjadi seperti tokoh idolanya, B.J Habibie. Ia juga berjuang untuk dapat menginjakkan kaki di negara impiannya, Paman Sam.
Ø    Emak dan Ayah ( Pemeran Pendukung – Protagonis )
Orang tua Alif yang menyuruh anaknya untuk melanjutkan studi di Pondok Modern Gontor.
Ø    Randai ( Pemeran Pendukung – Antagonis )
Teman sebaya Alif ketika di Maninjau, yang berhasil masuk di SMA impian. Ia dan Alif sering bersaing dalam hal prestasi. Suka memamerkan kepada Alif bagaimana indahnya masa SMA.
Ø    5 sahabat - Raja, Said, Dulmajid, Atang dan Baso (Pemeran Pendukung – Protagonis)
5 sahabat seperjuangan Alif selama di PM Gontor yang saling membantu satu sama lain dan saling menjadi bahu untuk sesama ketika lara.
Ø    Kyai dan Ustad ( Pemeran Pendukung – Protagonis )
Seorang yang ikhlas dalam memberikan ilmu dan semangat untuk para santrinya di PM.
4.      Alur
Alur cerita dari novel “NEGERI 5 MENARA” adalah alur sorot balik atau alur mundur, karena pada awal cerita adalah pertemuan Alif dan kedua sahabatnya di tempat yang mereka impikan dulu, setelah sekian tahun lamanya tidak berjumpa. Kemudian penulis mengisahkan kehidupan Alif beberapa tahun yang lalu sebelum dan sesudah dipertemukan dengan sahabat-sahabatnya, juga perjuangan mereka dalam meraih impian. Jadi diceritakan hasil terlebih dahulu, kemudian menjelaskan prosesnya beberapa tahun yang lalu.
5.      Sudut Pandang
Menggunakan sudut pandang orang serba tahu, karena didalam novel penulis hanya menceritakan dengan jelas dan sangat tahu kejadian para tokoh tetapi tidak memasukkan dirinya didalam cerita tersebut. Jadi, penulis hanya sekedar bercerita orang lain diluar dirinya.
6.      Amanat
Kita hidup, kita menentukan. Menentukan pilihan dan tujuan darinya. Jangan takut bermimpi dan jangan meremehkan sebuah impian. Berjuanglah dalam merealisasikan mimpi tersebut dengan menyeimbangkan antara usaha dan doa. . Bermodalkan tekad yang kuat dan usaha diatas rata-rata usaha orang lain, insyaallah apa yang kita harapkan dapat terwujud.Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Siapa yang bersabar, dia akan beruntung Tuhan maha Mendengar...
7.      Gaya Bahasa
Gaya penulisan mudah untuk dipahami. Penulis juga menyelipkan bahasa Arab yang disertai artinya. Penjabaran akan situasi ketika cerita itu berlangsung sangat kuat dan jelas, sehingga pembaca menjadi beranggapan seperti cerita itu memang asli dan ada di dunia nyata. Gaya bahasanya membawa pembaca ikut larut dalam kisah tersebut. Dramatis.

F.    UNSUR EKSTRINSIK
1.      Riwayat Hidup Penulis
Ahmad Fuadi lahir di Bayur Maninjau, Sumatera Barat pada tangggal 30 Desember 1972 adalah novelis, pekerja sosial dan mantan wartawan dari Indonesia. Novel pertamanya adalah novel “Negeri 5 Menara. Novel keduanya yang merupakan trilogi dari Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna telah diterbitkan sejak 23 Januari 2011. Fuadi mendirikan Komunitas Menara, sebuah yayasan sosial untuk membantu pendidikan masyarakat yang kurang mampu, khususnya untuk usia pra sekolah. Saat ini Komunitas Menara punya sebuah sekolah anak usia dini yang gratis di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.
Memulai pendidikan menengahnya di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan lulus pada tahun 1992. Kemudian melanjutkan kuliahHubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, setelah lulus menjadi wartawan Tempo. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah bimbingan para wartawan senior Tempo. Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya yang juga wartawan Tempo adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA.  Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September 2001 dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.
Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Penyuka fotografi  ini pernah menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.

2.      Karya – karya Penulis
Ø Negeri 5 Menara
Ø Ranah 3 Warna

3.      Prestasi Penulis
Karena karyanya yang sangat menakjubkan, berikut prestasi yang diperoleh Ahmad Fuadi :
Ø SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship, National University of Singapore1997
Ø Indonesian Cultural Foundation Inc Award, 2000-2001
Ø Columbian College of Arts and Sciences Award, The George Washington
Ø The Ford Foundation Award 1999-2000
Ø CASE Media Fellowship, University of MarylandCollege Park2002
Ø Longlist Khatulistiwa Literary Award 2010
Ø Penulis dan Fiksi Terfavorit, Anugerah Pembaca Indonesia 2010
Ø Penulis/Buku Fiksi Terbaik, Perpustakaan Nasional Indonesia 2011
Ø Liputan6 Award, SCTV untuk Kategori Pendidikan dan Motivasi 2011


G.   NILAI BUKU
Hal-hal yang terkandung dalam buku ini meliputi keunggulan dan kelemahan, serta visi dan misi buku, yaitu sebagai berikut :
1.      Keunggulan buku
Ø  Cover buku terlihat menarik.
Ø  Menggunakan gaya bahasa yang tidak rumit, sehingga mudah dipahami pembaca.
Ø  Penggambaran cerita yang deskriptif sehingga terasa nyata.
Ø  Alur cerita runtut.
Ø  Menceritakan kisah yang sangat inspiratif sehingga dapat menginspirasi pembaca.
Ø  Mengubah pola pikir kita tentang kehidupan pondok pesantren yang sebenarnya tidak hanya belajar agama saja.
Ø  Jenis buku yang isinya dapat dibaca oleh siapa saja.

2.      Kelemahan Buku
Ø  Akhir dari cerita sangat menggantung.

3.      Visi dan Misi Penulisan Buku.
Ø  Menyuguhkan bacaan yang berkualitas bagi pembaca.
Ø  Menginspirasi dan menumbuhkan semangat pembaca.
Ø   Menyadarkan pembaca bagaimana “hebatnya” sebuah mimpi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar