Haaiii.....
selamat malam...
menjelang dini hari, di sekolah ...
dingin. ngga bisa tidur.
yg sebelah lagi ngomel2in adek2 juniornya :D
yg sebelah lagi sedang tidur dengan jaket merahnya.
biarkan dia terlelap :)
Minggu, 24 Februari 2013
Jumat, 08 Februari 2013
secarik guratan indah sore itu
Masih terjaga. Menjelang subuh. Sudah cukup kenyang istirahat semalam sebelum beberapa jam yang lalu. Kurasa memang benar jika ketika seseorang jatuh cinta maka ia sulit terlelap karena ia pikir dunia lebih indah daripada mimpi. Sepertinya terbukti pada saat ini. Kejadiansore tadi... tak bisa diungkapkan dengan kata kata. Sepertimimpi. Bolehlah jika aku katakan bunga sedang mekar dan kumbang mencarinya. Seperti yang dikatakannya kala itu. Jndah. Memang indah. Aku tak ingin jika ini hanya kebahagiian sesaat yang akan hilang begitu saja seperti mimpi malam. Pandangan mematikan itu.
Rabu, 06 Februari 2013
Seperti apa, entahlah...
Seperti apa, entahlah...
Aku ingin mendekat, tapi kaki melangkah mundur.
Aku ingin melihat, tapi mata mengalihkan pandangan.
Aku menginginkan, tapi aku bersembunyi dibalik.
Maaf.
Aku ingin mendekat, tapi kaki melangkah mundur.
Aku ingin melihat, tapi mata mengalihkan pandangan.
Aku menginginkan, tapi aku bersembunyi dibalik.
Maaf.
hasil shoot
-------di sekolah
Guru sedang duduk manis di bangku. 4 siswa sedang presentasi. siswa lain sibuk sendiri. sibuk ngenet, sibuk memperhatikan, sibuk dengan rasa kantuk, dan aku sibuk ngeblog :D
Ane mau posting hasil hunting sabtu kemaren. noh..!!
Guru sedang duduk manis di bangku. 4 siswa sedang presentasi. siswa lain sibuk sendiri. sibuk ngenet, sibuk memperhatikan, sibuk dengan rasa kantuk, dan aku sibuk ngeblog :D
Ane mau posting hasil hunting sabtu kemaren. noh..!!
Selasa, 05 Februari 2013
maaf kawan
Bukankah setiap orang berhak jatuh cinta?
kala itu juga, tak ada satupun insan yang berhak merampas perasaan itu.
terlebih untuk merusaknya.
ya, aku tidak ingin merusak perasaanmu,juga bahagiamu teman.
kamu lebih dulu menyukainya.
dan aku beru tau ketika aku terlanjur menyukainya juga.
sungguh aku tak ingin merampas itu.
asing
16:05 ------di sekolah
Sedikit gerimis.
Tetes air dari langit.
Semakin sore semakin sering tetesan itu jatuh.
Sendiri. Menatap layar. Tetapi pikiranku melayang jauh.
Aku biarkan diriku otakku sibuk dengan pikiran yang tak menentu.
Kejadian semalam.Ketika dengan tidsk sadar aku terbangun tepat tengah malam.
Ku dengar suara ribut dari balik tembok kamarku yang masih menyala terang.
Ku kumpulkan nyawaku.
Ku kumpulkan kesadaranku.
Buku sejarah masih terpampang disamping baringku.
Suara ribut masih terdengar jelas. Lampu ruang tamu menyala terang.
Tidak seperti malam biasanya, pikirku.
Oh ternyata ribut terjadi di tempat itu.
Aku pertajam pendengaranku. Mencermati setiap kata dari ketiga orang tersebut.
Yang satu dengan suara kekeuh sedikit menegang, yang satu dengan nada tangisan, satunya lagi dengan suara berusaha menenangkan keadaan.
Sepertinya aku sedikit tau. Dengan kejadian sore sebelumnya yang memang berkondisi tidak enak.
Ini sangat asing bagiku. kKeadaan yang sepertinya belum pernah sebelumnya.
Kupeluk boneka singa yang berhasil aku jangkau.
Kutemukan hp di salah satu pandanganku.
Kuraih, kucari namanya di pesan masuk.
Kuceritakan shampir semua padanya.
Jangan tanya siap. Patinya dia yang pandnagannya mematikan.
Oh tuhan, keluar kamarpun aku tidak berani.
Ini sangat menyesakkan.
Memang bodoh. hanya berdiam diri di kamar.
Mau apa coba? aku hanya anak kecil yang tak tau apa-apa.
Pagi bangun tidur aku merasakan kondisi yang agak kurang nyaman.
Oh ternyata belum dingin. Masih kacau sepertinya.
Aku hanya menelan ludah.
Mengingat ini bulan Februari yang seharusnya kedatangan kabar baik.
Kusibukkan diriku, mengingat hari itu aku harus berangkat sekolah.
Ku siapkan rencana dimana hari itu aku tidak akan segera pulang.
Aku ingin berlama-lama di sekolah.
Pulang ketika petang.
Dan segera sibuk dengan tugas, merebahkan diri dikamar, lalu istirahat.
Oh ya, hari ini kabar buruk yang lain juga datang. pasti akan kuceritakan padamu lain waktu.
Sepertinya ini cukup. terlalu lelah berlama-lama jari menari diatas keyboard.
Sabtu, 19 Januari 2013
Resensi Pertamaku
RESENSI NOVEL
"NEGERI 5 MENARA"
Judul : Negeri 5 Menara
Penulis : Ahmad
Fuadi
Penerbit : Gramedia
Pustaka Utama
Tahun
terbit : 2009
Ukuran :
Tebal : 242
Halaman
Cover : Bergambar 6
remaja laki-laki dari arah depan yang sedang berjalan sambil bergurau satu sama
lain. Judul terlampir.
A.
TEMA
Novel “NEGERI 5 MENARA” ini bertemakan tentang kebimbangan, perjuangan
dan persahabatan. Novel ini bercerita tentang 6 orang sahabat yang berjuang
sekuat tenaga dan pikiran dalam meraih impian mereka masing-masing.
B.
SINOPSIS
Hidup
adalah pilihan.
Penulis
best seller Ahmad Fuadi berbagi sedikit perjuangan
masa mudanya melalui novel berjudul “NEGERI 5 MENARA”. Novel ini bercerita
tentang tokoh utama Fuadi sebagai Alif Fikri, pemuda asal Desa Bayur,
Maninjau, Sumatera Barat yang bercita-cita ingin menjadikan dirinya
seperti B.J.Habibie, sosok yang sangat diimpikan. Alif berniat untuk masuk di
SMA Bukittinggi Sumatera Barat dengan berbekal nilai ujian yang lumayan bagus
bersama seorang sahabatnya, Randai. Keduanya ingin melanjutkan pendidikan di
ITB kelak. Namun, mimpinya seakan sirna begitu cepat ketika sang Amak tidak
mengijinkan. Beliau meminta anaknya untuk melanjutkan sekolah di Pondok Modern
Gontor dengan alasan Amak ingin Alif menjadi seorang ustad nantinya. Alifpun bimbang.
Dengan berbekal setengah hati dan rasa berbakti kepada orangtua, Alif berangkat
ke Pondok Madani (PM), Ponorogo, Jawa Timur ditemani sang ayah. Selama
diperjalanan Alif menghapus keraguan yang singgah dan menguatkan keyakinan
bahwa memang itulah jalan hidup terbaik untuknnya.
Kesan pertama Alif adalah aturan yang ketat dan sangan disiplin. Hukuman
berlaku bagi siapa saja yang melanggar aturan sekecil apapun di PM. Disisi
lain, Alif terjamu dengan pepatah Kyai Rais “Man Jadda Wajada” yang berhasil
mengobarkan semangat semua murid. Di pondok itu Alif dipertemukan dengan para “Sahibul
Menara” yang berarti “orang yang punya menara” sebutan bagi Alif dan 5 temannya
yaitu Raja, Said, Dulmajid, Atang dan Baso karena seringnya mereka menghabiskan
waktu senggangnya di menara sambil menunggu adzan maghrib. Mereka belajar
bersama-sama dan senang mendiskusikan tentang impian-impian mereka
masing-masing di bawah menara tertinggi di PM.
Suatu saat Alif menerima surat dari Randai yang
bercerita tentang indahnya masa SMA. Hatinya merasa iri. Keyakinannya mulai
terusik karena rencana masuk SMA-nya juga rencana Alif dulu. Alif merasa
seperti ada batu yang menekan dadanya ketika melihat kembali sepucuk surat dari
Randai. Alif kegelisahan mengetahui
teman baiknya – Randai – sudah masuk SMA terbaik yang pernah mereka idamkan
bersama, sudah melewati masa SMA dengan penuh tawa, dan dengan bahagia berhasil
merebut impian mereka tertinggi: masuk universitas di ITB. Pertanyaan “jadi apa
aku nanti?” terus terngiang dalam kepalanya mengingat ijazah PM tidak diakui
walaupun sangat diakui di luar negeri.
Seiring
berjalannya waktu, Alif mulai menikmati kehidupannya, mulai berteman baik
dengan segala aturan. Disana Alif belajar berpidato dengan menggunakan bahasa
Inggris dan bahasa Arab yang merupakan bahasa resmi PM. Masa-masa ujian pertama
Alif lewati dengan persiapan yang sangat matang. Alif bersama Sahibul Menara
rela begadang untuk belajar demi nilai bagus. Sudah menjadi tradisi hampir
semua murid PM bangun tengah malam untuk mengulangi materi yang sudah diajarkan
para ustad yang ikhlas mengajar tanpa gaji sepeserpun.
Di tengah
perjalanan, Baso tiba-tiba memutuskan untuk keluar dari PM karena ingin merawat
neneknya yang sedang sudah tua dan sakit-sakitan. Kepergian Baso membangkitkan
penyakit lama Alif. Surat Randai menyuburkan. Alif baru saja menerima surat
dari Bandung, dengan amplop bergambar gajah duduk, lambang almamater
kebanggaannya, ITB. Randai bercerita bagaimana bangga dan senangnya merantau di
Bandung. Hati Alif memberontak. Alif tahu pasti bahwa PM tidak memberikan
ijazah untuk masuk sekolah umum. Ijazah PM malah diakui di Mesir, Arab Saudi,
Pakistan, dan bebeerapa negara lain. Alif mengirim surat kepada Amaknya,
meminta untuk berhenti dari PM. Amak langsung membalas bahwa Ayahnya akan
segera datang ke PM. Di PM Alif dibujuk Ayahnya untuk terus bertahan sampai
berakhirnya ujian kelulusan. Sang Ayah sudah mendaftarkannya untuk ikut ujian
persamaan delapan bulan lagi. Alifpun mengangguk tanpa kesadaran penuh.
Mata Alif
nanar mengikuti jari yang mencari-cari nama nya di papan pengumuman kelulusan.
Alif menemukannya dengan pernyataan LULUS. Segeralah ia sujud syukur dan
berpelukan dengan para Sahibul Menara. Kelas enam dikumpulkan di depan rumah
Kyai Rais untuk menerima transkip nilai dan diberi nasehat langsung. “...
Ingatlah nasihat Imam Syafi’i : Orang yang berilmu dan beradab tidak akan diam
di kampung halaman. Tinggalkan neegerimu dan merantaulah ke negeri orang.
Selamat jalan anak-anakku,” ucap Kyai Rais dalam nasihat terakhirnya. Suasana
begitu hening dan syahdu.
Malamnya
diadakan acara Khutbah perpisahan. Semua kelas enam yang berjumlah ratusan
diminta berdiri memanjang di aula. Saling meletakkan tangan di bahu teman, di
kiri kanan. Suasana hening pecah oleh isakan kecil sana-sini ketika mendengar
pesan Kyai Rais. Lalu Kyai Rais dan para guru menjabat tangan mereka satu
persatu. Tiba giliran Alif, Kyai Rais memberikan pelukan erat. “Anakku, selamat
berjuang. Hidup sekali, hiduplah yang berarti,” bisiknya. Alif menggigit bibir,
tersentuh oleh pelukan guru yang sangat ia hormati ini. Esoknya bus carteran
jurusan Bukuttinggi menderum meninggalkan PM.
11 tahun
kemudian. Alif sampai di Trafalgar Square, di London. Yang apling mencolok
adalah sebuah menara granit yang pondasinya dijaga empat ekor singa. Di pucuk
menara berdiri patung pahlawan perang Inggris Admiral Horatio Nelson. Menara
itulah tujuan Alif, tempat mereka berjanji bertemu. Tak lama kemudian, Raja
datang, selang beberapa menit Atangpun juga datang. “Pertemuan bersejarah, di jantung kota
London! Alhamdulillah,” katanya. Mereka saling bercerita tiada henting tentang
pengalaman masing-masing. Atang bercerita bahwa Said dan Dulmajid bekerja sama
mendirikan sebuah pondok di Surabaya. Atang juga mendapat kabar tentang Baso
yang sukses menghafal Al-Quran kini kuliah di Mekkah dengan beasiswa penuh dari
pemerintah Arab Saudi. Sedangkan Atang sendiri menuntut ilmu di Kairo dan
sekarang menjadi mahasiswa program doktoral untuk ilmu hadist di Universitas
Al-Azhar. Sementara Raja sudah satu tahun tinggal di London, setelah
menyelesaikan kuliah hukum islam dengan gelar License.Alif tak putus-putus membatin, “Terima kasih Allah, Sang
Pengabul Harapan dan Sang Pendengar Doa.”
Dulu mereka
melukis langit dan membebaskan imajinasi di bawah menara PM. Alif melihat awan
seperti benua Eropa, Raja melihat awan berberntuk Eropa, Atang melihat awan
berbentuk Afrika, Baso melihat awan berbentuk Asia, sedangkan Said dan Dulmajid
sangat nasionalis, awan itu berbentuk peta negara Indonesia. Dulu mereka takut
bermimpi. Tapi lihatlah sekarang, dengan segala usaha dan doa , Tuhan mengirim
benua impian ke pelukan masing-masing.Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan
berhasil.....
C.
COVER
Buku yang berjudul “NEGERI 5 MENARA” ini ditulis oleh Ahmad Fuadi yang diterbitkan
oleh Gramedia Pustaka Utama dengan lebar buku ... , panjang buku ... , kertas
isi... , kertas kulit..., dan tebal...halaman. Buku ini merupakan cetakan ke...
yaitu pada tahun 2009 dengan gambar cover bergambar 6 remaja laki-laki dari
arah depan yang sedang berjalan sambil bergurau satu sama lain. Halaman judul
terlampir.
D.
JENIS BUKU
Novel “NEGERI 5 MENARA” ini merupakaan jenis novel fiksi yang
menceritakan tentang seseorang dan 5 sahabatnya yang berjuang dalam meraih
impian tinggi mereka, lalu pada suatu saat mereka berhasil memeluk impian
tersebut.
E.
UNSUR
INTRINSIK
1.
Tema
Novel karya Ahmad Fuadi ini bertemakan kebimbanganseseorang
dalam menentukan kelanjutan studinya, perjuangan dalam meraih impian, dan
persahabatan 6 remaja laki-laki.
2.
Latar /
setting
Sumatra Barat, Pondok Modern Gontor, Ponorogo,
Bandung, Washington DC.
3.
Tokoh dan
Penokohan
Ø
Alif Fikri ( Pemeran Utama – Protagonis )
Seorang anak Maninjau, Sumatra Barat yang bercita-cita
ingin menjadi seperti tokoh idolanya, B.J Habibie. Ia juga berjuang untuk dapat
menginjakkan kaki di negara impiannya, Paman Sam.
Ø
Emak dan Ayah ( Pemeran Pendukung – Protagonis )
Orang tua
Alif yang menyuruh anaknya untuk melanjutkan studi di Pondok Modern Gontor.
Ø
Randai ( Pemeran Pendukung – Antagonis )
Teman sebaya
Alif ketika di Maninjau, yang berhasil masuk di SMA impian. Ia dan Alif sering
bersaing dalam hal prestasi. Suka memamerkan kepada Alif bagaimana indahnya
masa SMA.
Ø
5 sahabat - Raja, Said, Dulmajid, Atang dan Baso
(Pemeran Pendukung – Protagonis)
5 sahabat
seperjuangan Alif selama di PM Gontor yang saling membantu satu sama lain dan
saling menjadi bahu untuk sesama ketika lara.
Ø
Kyai dan Ustad ( Pemeran Pendukung – Protagonis )
Seorang yang
ikhlas dalam memberikan ilmu dan semangat untuk para santrinya di PM.
4.
Alur
Alur cerita
dari novel “NEGERI 5 MENARA” adalah alur sorot balik atau alur
mundur, karena pada awal cerita adalah pertemuan Alif dan kedua sahabatnya di
tempat yang mereka impikan dulu, setelah sekian tahun lamanya tidak berjumpa.
Kemudian penulis mengisahkan kehidupan Alif beberapa tahun yang lalu sebelum
dan sesudah dipertemukan dengan sahabat-sahabatnya, juga perjuangan mereka
dalam meraih impian. Jadi diceritakan hasil terlebih dahulu, kemudian
menjelaskan prosesnya beberapa tahun yang lalu.
5.
Sudut
Pandang
Menggunakan
sudut pandang orang serba tahu, karena didalam novel penulis hanya menceritakan
dengan jelas dan sangat tahu kejadian para tokoh tetapi tidak memasukkan
dirinya didalam cerita tersebut. Jadi, penulis hanya sekedar bercerita orang
lain diluar dirinya.
6.
Amanat
Kita
hidup, kita menentukan. Menentukan pilihan dan tujuan darinya. Jangan takut
bermimpi dan jangan meremehkan sebuah impian. Berjuanglah dalam merealisasikan
mimpi tersebut dengan menyeimbangkan antara usaha dan doa. . Bermodalkan tekad
yang kuat dan usaha diatas rata-rata usaha orang lain, insyaallah apa yang kita
harapkan dapat terwujud.Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Siapa
yang bersabar, dia akan beruntung Tuhan maha Mendengar...
7.
Gaya
Bahasa
Gaya
penulisan mudah untuk dipahami. Penulis juga menyelipkan bahasa Arab yang
disertai artinya. Penjabaran akan situasi ketika cerita itu berlangsung sangat
kuat dan jelas, sehingga pembaca menjadi beranggapan seperti cerita itu memang
asli dan ada di dunia nyata. Gaya bahasanya membawa pembaca ikut larut dalam
kisah tersebut. Dramatis.
F. UNSUR EKSTRINSIK
1.
Riwayat
Hidup Penulis
Ahmad
Fuadi lahir
di Bayur Maninjau, Sumatera
Barat pada tangggal 30
Desember 1972 adalah novelis,
pekerja sosial dan mantan wartawan dari Indonesia.
Novel pertamanya adalah novel “Negeri 5 Menara. Novel keduanya yang
merupakan trilogi dari Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna telah diterbitkan
sejak 23 Januari 2011.
Fuadi mendirikan Komunitas Menara, sebuah yayasan sosial untuk membantu
pendidikan masyarakat yang kurang mampu, khususnya untuk usia pra sekolah. Saat
ini Komunitas Menara punya sebuah sekolah anak usia dini yang gratis di kawasan
Bintaro, Tangerang Selatan.
Memulai pendidikan
menengahnya di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan lulus pada tahun 1992.
Kemudian melanjutkan kuliahHubungan Internasional di Universitas Padjadjaran,
setelah lulus menjadi wartawan Tempo.
Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah
bimbingan para wartawan senior Tempo.
Tahun 1998,
dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di
School of Media and Public Affairs, George Washington University.
Merantau ke Washington
DC bersama
Yayi, istrinya yang juga wartawan Tempo adalah
mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi
koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11
September 2001 dilaporkan mereka
berdua langsung dari Pentagon, White
House dan Capitol Hill.
Tahun 2004,
jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk
bidang film
dokumenter. Penyuka fotografi ini pernah menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature
Conservancy.
2.
Karya –
karya Penulis
Ø Negeri 5
Menara
Ø Ranah 3
Warna
3.
Prestasi
Penulis
Karena karyanya yang sangat menakjubkan, berikut prestasi
yang diperoleh Ahmad Fuadi :
Ø Columbian College of Arts and
Sciences Award, The George
Washington
G. NILAI BUKU
Hal-hal yang terkandung dalam buku ini meliputi
keunggulan dan kelemahan, serta visi dan misi buku, yaitu sebagai berikut :
1.
Keunggulan
buku
Ø Cover buku
terlihat menarik.
Ø Menggunakan
gaya bahasa yang tidak rumit, sehingga mudah dipahami pembaca.
Ø Penggambaran
cerita yang deskriptif sehingga terasa nyata.
Ø Alur cerita
runtut.
Ø Menceritakan
kisah yang sangat inspiratif sehingga dapat menginspirasi pembaca.
Ø Mengubah pola pikir kita tentang kehidupan pondok pesantren yang sebenarnya
tidak hanya belajar agama saja.
Ø Jenis buku
yang isinya dapat dibaca oleh siapa saja.
2.
Kelemahan
Buku
Ø Akhir dari
cerita sangat menggantung.
3.
Visi dan
Misi Penulisan Buku.
Ø Menyuguhkan
bacaan yang berkualitas bagi pembaca.
Ø Menginspirasi
dan menumbuhkan semangat pembaca.
Ø Menyadarkan pembaca bagaimana “hebatnya”
sebuah mimpi.
Langganan:
Postingan (Atom)




